Review Film: The Expendables 3

Para jagoan tua pimpinan Sylvester Stallone itu kembali di seri ketiga franchise The Expendables dengan ledakan & baku tembak yang lebih spektakuler serta, sayangnya, jalan cerita yang juga terasa lebih melelahkan.

Kawan sekaligus musuh dari masa lalu Ross Barney (Stallone) yang muncul mengganggu misi dari pasukan The Expendables sekaligus melukai parah salah satu anggotanya, membuat Barney memutuskan untuk ‘membubarkan’ pasukan pimpinannya. Musuh yang diperankan oleh Mel Gibson tersebut disokong oleh pasukan yang jumlahnya bukan lusinan lagi, tapi batalyon plus senjata berat yang lengkap.

Barney yang enggan mengorbankan lagi kru The Expendables yang baginya sudah terasa seperti keluarga, apalagi musuh yang dihadapi punya kekuatan yang luar biasa. Maka ia memutuskan merekrut anggota baru yang lebih muda & segar. Berhasilkah Barney?

Mungkin The Expendables 3 (dan dua film prekuelnya) bukan tipe film untuk saya. Bahkan belum sepertiga dari durasinya yang dua jam lebih enam menit itu, saya sudah diserang kantuk berat. Untungnya efek ledakan, penghancuran, dan baku tembaknya yang lebih dahsyat dari The Expendables 1 & 2 sedikit membantu saya untuk tetap terjaga.

Jangan salah, The Expendables 3 (TE3) akan sangat memuaskan bagi Anda pecinta film action cult ala Stallone, Arnold Schwarzenegger, atau Dolph Lundgren. Storyline yang ditulis sendiri oleh Stallone memang terasa sekali dibuat hanya sebagai ‘wadah’ untuk adegan baku tembak & ledakannya. Seperti menonton film pertama The Raid dan Merantau, jalan cerita dan dialognya terasa hanya sebagai ‘aksesoris’.

Sayangnya, jika The Raid dan Merantau punya koreografi pencak silat & hand to hand fighting yang indah, maka adegan baku tembak & ledakan di TE3 terasa tidak punya unsur seni. Bagi saya adegan action di TE3 terasa random: tembak sana, bom sini, sporadis. Memang dahsyat, tapi kurang ‘kena’ di hati.

Untungnya sutradara Patrick Hughes tahu bagaimana mengakhiri film ini, sebuah perang seru antara selusin kru The Expendables melawan satu batalyon pasukan musuh. Entah kenapa bagi saya final battle ini terasa lebih punya koreografi, lebih menarik. Silakan tonton dan bandingkan adegan-adegan action ‘pemanasan’ dengan final battle-nya.

Dari jajaran cast, rombongan kru TE3 tetap diisi nama-nama yang sebelumnya tampil di TE1 dan TE2. Ditambah nama-nama baru yang kebanyakan menjadi pasukan ‘magang’ The Expendables. Sekian banyak ensemble cast, hanya dua yang menarik perhatian saya: Ronda Rousey yang menyegarkan, dan Antonio Banderas yang kocak.

Sayangnya TE3 harus KO di box office akibat bocornya digital copy dari film ini. Gilanya, karena yang bocor adalah digital copy, maka film bajakan yang sempat beredar di situs spesialis unduh film bajakan itu langsung berkualitas DVD original! Alhasil biaya pembuatan TE3 yang mencapai US$90 juta itu hanya kembali seperenamnya!

Semoga hal ini tidak menciutkan nyali Ross Barney dan kawan-kawan untuk hadir di instalmen keempat The Expendables (jika ada) di masa depan. Meskipun tentu Stallone butuh lebih banyak lagi suntik botox untuk menyembunyikan kerutan di wajahnya.

Rating 2,5/5

Wassalamualaikum, Regards
Gisma Liggan

Advertisements

8 thoughts on “Review Film: The Expendables 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s